Dicekik saat Masih Pacaran

                                    Dicekik saat Masih Pacaran

klik66 - Awal berpacaran, semua terasa indah bagi Mirna. Pacarnya yang kini suaminya—rela menempuh jarak yang lumayan jauh untuk menjemputnya sepulang kuliah di Jakarta Timur, dan mengantarkannya ke rumahnya di kawasan Koja

Nyatanya, hari-hari bahagia itu tak berlangsung lama. Pada tahun pertama pacaran saja, Mirna sudah mendapat kekerasan verbal dari pacarnya.

“Masalah sepele, kayak aku minta jemput dari kampus, terus dia bilang iya. Tapi pas aku sampai halte, aku telepon dia, enggak diangkat-angkat. Kan kesel juga [nunggu]. Lalu dia [datang jemput] sambil marah-marah (berkata kasar),” kata Mirna, mengilas balik ke belakang

Tahun kedua pacaran, Mirna mulai menerima kekerasan fisik dari pacarnya.

“Pas berantem hebat, dia geregetan sama aku terus cekik aku,” ujar Mirna bercerita kepada kumparan, Jumat (10/5).

klik66 -Berhubung Mirna tak dekat dengan orang tuanya, ia menceritakan pengalaman buruknya kepada sahabat-sahabatnya. Ia juga sempat minta pertimbangan mereka soal kelanjutan hubungannya dengan si pacar.

Mirna dan pacarnya sempat putus saat pernikahan di sudah depan mata. Namun, sesudah putus, Mirna mendapat kabar bahwa mantan pacarnya stres.

Ia datang menjenguk, dan melihat banyak botol miras bertebaran di rumah si pacar. Mirna pun luluh melihat kondisi si mantan yang berantakan, dan memutuskan melanjutkan rencana pernikahan mereka.

Sayangnya, keputusan justru berakhir buruk bagi Mirna. Belakangan, setelah menikah, Mirna sadar suaminya betul-betul manipulatif. Tiap bertengkar, ia selalu menyudutkan Mirna.

“Aku baru sadar sekarang. Ternyata selama ini dia lho yang salah. Tapi waktu pacaran, kayak aku terus yang salah

klik66 -Hari demi hari, borok suami Mirna makin kentara. Ia hampir selalu pulang tiap subuh. Semalam suntuk, suaminya sibuk main game dan kongko bareng teman-temannya. Sementara ketika mentari terbit dan kebanyakan orang bersiap berangkat kerja, si suami tidur pulas sampai tengah hari.

Bangun siang atau sore tiap harinya bukan masalah buat dia, karena suami Mirna itu pengangguran. Ia tak punya pekerjaan apa pun. Tidak juga kerja serabutan sekadar untuk mencari sesuap nasi buat Mirna.

Bangun tidur, si suami bahkan sudah langsung balik main game, bukannya berusaha cari kerja untuk menghidup Mirna yang kala itu tengah mengandung.

Parahnya, tiap kalah main game, emosi lelaki itu jadi tak terkendali. Tak jarang ia mengeluarkan kata-kata kasar kepada Mirna, hingga Mirna tak berani bicara apa pun kala suaminya itu kumat.

“Dia kalau main game enggak bisa satu match, harus berkali-kali. Jadi kalah berkali-kali. Nah, itu harus menang dulu, baru berhenti main,” tutur Mirna, menyinggung obsesi tak sehat si suami yang ingin menjadi gamer sampai mengabaikan hal lain, termasuk istrinya

Comments